Minggu, 12 Agustus 2012

POTENSI AGRIBISNIS INDONESIA

Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar dalam pengembangan agribisnis bahkan dimungkinkan akan menjadi leading sector dalam pembangunan nasional. Potensi agribisnis tersebut diuraikan sebagai berikut :
1.      Dalam Pembentukan Produk Domestik bruto , sektor agribisnis merupakan penyumbang nilai tambah (value added) terbesar dalam perekonomian nasional, diperkirakan sebesar 45 persen total nilai tambah.
2.      Sektor agrbisnis merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja terbesar diperkirakan sebesar 74 persen total penyerapan tenaga kerja nasional.
3.      Sektor agribisnis juga berperan dalam penyediaan pangan masyarakat. Keberhasilan dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokok beras telah berperan secara strategis dalam penciptaan ketahanan pangan nasional (food security) yang sangat erat kaitannya dengan ketahanan sosial (socio security), stabilitas ekonomi, stabilitas politik, dan keamanan atau ketahanan nasional (national security).
4.      Kegiatan agribisnis umumnya bersifat resource based industry. Tidak ada satupun negara di dunia seperti Indonesia yang kaya dan beraneka sumberdaya pertanian secara alami (endowment factor). Kenyataan telah menunjukkan bahwa di pasar internasional hanya industri yang berbasiskan sumberdaya yang mempunyai keunggulan komparatif dan mempunyai konstribusi terhadap ekspor terbesar, maka dengan demikian pengembangan agribisnis di Indonesia lebih menjamin perdagangan yang lebih kompetitif.
5.      Kegiatan agribisnis mempunyai keterkaitan ke depan dan kebelakang (backward dan forward linkages) yang sangat besar. Kegiatan agribisnis (dengan besarnya keterkaitan ke depan dan ke belakang) jika dampaknya dihitung berdasarkan impact multiplier secara langsung dan tidak langsung terhadap perekonomian diramalkan akan sangat besar.
6.      Dalam era globalisasi perubahan selera konsumen terhadap barang-barang konsumsi pangan diramalkan akan berubah menjadi cepat saji dan pasar untuk produksi hasil pertanian diramalkan pula terjadi pergeseran dari pasar tradisional menjadi model Kentucky. Dengan demikian agroindustri akan menjadi kegiatan bisnis yang paling attraktif.
7.      Produk agroindustri umumnya mempunyai elastisitas yang tinggi, sehingga makin tinggi pendapatan seseorang makin terbuka pasar bagi produk agroindustri.
8.      Kegiatan agribisnis umumnya menggunakan input yang bersifat renewable, sehingga pengembangannya melalui agroindustri tidak hanya memberikan nilai tambah namun juga dapat menghindari pengurasan sumberdaya sehingga lebih menjamin.
9.      Teknologi agribisnis sangat fleksibel yang dapat dikembangkan dalam padat modal ataupun padat tenaga kerja, dari manejement sederhana sampai canggih, dari skala kecil sampai besar. Sehingga Indonesia yang penduduknya sangat banyak dan padat, maka dalam pengembangannya dimungkinkan oleh berbagai segmen usaha.
10.  Indonesia punya sumberdaya pertanian yang sangat besar, namun produk pertanian umumnya mudah busuk, banyak makan tempat, dan musiman. Sehingga dalam era globalisasi dimana konsumen umumnya cenderung mengkonsumsi nabati alami setiap saat, dengan kualitas tinggi dan tidak busuk dan makan tempat, maka peranan agroindustri akan dominan.

Konsumsi buah-buahan masyarakat indonesia baru mencapai 36 kg/kapita/th. Sedangkan rata-rata dunia telah mencapai 60 kg/kapita/tahun.
Konsumsi protein hewani di Indonesia saat ini masih rendah dibandingkan standar yang ditetapkan badan pangan dunia (FAO). Konsumsi protein hewani rakyat Indonesia saat ini sebesar 4,19 gram per kapita per hari, atau setara dengan 5,25 kilogram (kg) daging, telur 3,5 kg, dan susu 5,5 kg/kapita/tahun. Padahal, standar konsumsi protein hewani yang ditetapkan FAO, minimal enam gram/kapita/hari atau setara daging sebanyak 10,1 kg, telur 3,5 kg, dan susu 6,4 kg/kapita/tahun.
Rendahnya konsumsi protein hewani Indonesia menurut Staf Pengajar Institut Pertanian Bogor (IPB) Arief Daryanto juga terlihat dari rendahnya konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia . Saat ini konsumsi rata-rata susu per kapita di Indonesia masih dibawah 20 liter per tahun

Ketergantungan impor
Tabel. Perkembangan Rasio Impor Pangan terhadap Ketersediaan Pangan Domestik, 2001-2004 (%)
Komoditas
2001
2002
2003
2004
Pangan Nabati
Beras
Jagung
Kedelai
Pangan Hewani
Daging unggas
Susu
Ikan

0,99
14,20
18,60

0,00
39,00
2,00

2,64
15,00
21,20

0,00
34,00
2,00

2,16
12,50
15,11

0,00
35,00
2,12

1,83
10,95
62,29

0,09
91,31
2,78
Sumber: Dewan Ketahanan Pangan, 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar